Aswaja NU SMA/MA/SMK Kelas 12 Semester 2: Khittah Nahdliyah


    Aswaja NU SMA/MA/SMK Kelas 12 Semester 2: Khittah Nahdliyah 



    Hi, sahabat!
    Pada kesempatan kali ini, kami akan membagikan materi Aswaja NU SMA/MA/SMK Kelas 12 Semester 2: Khittah Nahdliyah. Yuk simak selengkapnya berikut ini!

    Aswaja NU SMA/MA/SMK Kelas 12 Semester 2 tentang Khittah Nahdliyah 


    A. Pengertian Khittah Nahdliyah

    1. Secara Bahasa
    Khittah (خطة) berarti garis, rencana, strategi, atau haluan. Nahdliyah berarti yang berkaitan dengan Nahdlatul Ulama. Jadi secara Bahasa, Khittah Nahdliyah adalah garis perjuangan atau haluan dasar NU.

    2. Secara Istilah
    Khittah Nahdliyah adalah garis perjuangan dan orientasi dasar Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang berlandaskan Ahlussunnah wal Jamaah. Khittah Nahdlatul Ulama 1926 artinya NU kembali pada garis awal berdirinya tahun 1926 sebagai organisasi sosial-keagamaan, bukan partai politik.

    B. Sejarah Lahirnya Khittah Nahdliyah

    Sejarah lahirnya Khittah Nahdliyah yaitu sebagai berikut. 

    1️. NU Awalnya Organisasi Sosial-Keagamaan (1926)
    Nahdlatul Ulama didirikan 31 Januari 1926 oleh: KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, dan Ulama pesantren lainnya. Tujuan awal berdirinya Nahdlatul Ulama yaitu:
    • Menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah
    • Membela mazhab empat
    • Melindungi tradisi keislaman Nusantara
    Nahdlatul Ulama saat itu bukan partai politik.

    2️. NU Masuk Politik Praktis (1952)
    Awalnya Nahdlatul Ulama bergabung dalam Partai Masyumi. Namun tahun 1952, NU keluar dari Masyumi dan menjadi partai politik sendiri. NU menjadi kekuatan politik besar pada Pemilu 1955.

    3️. Masa Orde Baru dan Tekanan Politik
    Di era Orde Baru, Partai-partai Islam dipaksa melebur menjadi PPP (1973). Nahdlatul Ulama otomatis masuk dalam PPP. Pada masa ini, terjadi ketegangan antara misi dakwah dan politik praktis. Akhirnya, Nahdlatul Ulama mengalami:
    Fragmentasi internal
    Penurunan peran sosial-keagamaan
    Ketergantungan politik

    4️. Muktamar Situbondo 1984: Kembali ke Khittah 1926
    Muktamar Situbondo 1984 diikuti oleh tokoh-tokoh ulama penting, seperti KH. Achmad Siddiq, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan ulama-ulama lainnya. Hasil keputusan muktanar tersebut adalah “NU kembali ke Khittah 1926”. Hal ini mengandung arti bahwa: 
    • NU tidak lagi terlibat dalam politik praktis.
    • NU fokus pada dakwah, pendidikan, sosial, dan pemberdayaan umat.
    • Warga NU bebas memilih partai politik secara pribadi.
    Peristiwa ini adalah titik balik sejarah NU.

    C. Kandungan Isi Khittah Nahdliyah 1926

    Isi Khittah bisa dipahami dalam beberapa poin pokok berikut:
    1️. NU sebagai Jam’iyah Diniyah Ijtima’iyah
    Nahdlatul Ulama sebagai Jam’iyah Diniyah Ijtima’iyah berarti bahwa NU adalah organisasi keagamaan dan kemasyarakatan, bukan partai politik, dan tidak menjadi kendaraan politik praktis.

    2️. Berasaskan Ahlussunnah wal Jamaah
    Nahdlatul Ulama memiliki paham Ahlussunnah wal Jamaah yaitu memiliki Akidah Asy’ari-Maturidi, menganut Fiqih empat mazhab, dan berpedomanTasawuf Al-Ghazali dan Junaid. Khittah menegaskan identitas teologis NU.

    3️. Berorientasi pada Kemaslahatan Umat
    Nahdlatul Ulama bergerak dalam beberapa bidang, seperti Pendidikan, Dakwah, Sosial, Ekonomi, dan Kebudayaan--bukan perebutan kekuasaan.

    4️. Tidak Berafiliasi pada Partai Politik
    Nahdlatul Ulama tidak menjadi bagian struktural partai dan juga tidak mengikatkan diri pada kekuatan politik tertentu. NU bersikap independen. Namun, warga NU tetap punya hak politik sebagai warga negara.

    5️. Menjaga Persatuan Bangsa
    Khittah menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama berkomitmen untuk:
    • Kesetiaan pada NKRI.
    • Penerimaan Pancasila.
    • Komitmen terhadap UUD 1945.

    6️. Prinsip Perjuangan
    Khittah Nahdliyin menegaskan nilai-nilai:
    • Tawassuth (moderat)
    • Tawazun (seimbang)
    • Tasamuh (toleran)
    • I’tidal (adil)
    • Amar ma’ruf nahi munkar

    D. Tujuan Kembali ke Khittah

    Tujuan utama Nahdlatul Ulama kembali ke Khittah 1926 karena:
    1. Politik praktis sering memecah belah warga NU.
    2. Misi dakwah menjadi terganggu.
    3. NU kehilangan fokus pada pendidikan dan sosial.
    4. Ingin menjaga NU sebagai kekuatan moral, bukan kekuatan elektoral.

    E. Dampak Khittah 1926

    Setelah kembali ke Khittah, beberapa dampak yang dirasakan oleh Nahdlatul Ulama yaitu:
    • NU menjadi organisasi Islam terbesar di Indonesia.
    • Pesantren berkembang pesat.
    • Lahir banyak intelektual NU.
    • NU menjadi pilar moderasi Islam.
    • Muncul gerakan civil society berbasis Islam.

    F. Perbedaan Khittah dan Qanun Asasi


    Qanun Asasi

    Khittah Nahdliyah

    Dasar ideologi

    Garis perjuangan

    Disusun KH. Hasyim Asy’ari

    Ditegaskan kembali 1984

    Fokus teologi Aswaja

    Fokus orientasi organisasi

    Fondasi

    Strategi


    G. Relevansi Khittah Saat Ini

    Khittah Nahdliyah penting karena:
    • Menjaga NU dari politisasi.
    • Menjadi model Islam moderat.
    • Menjadikan NU kekuatan sosial yang stabil.
    • Mencegah radikalisme dan ekstremisme.

    Kesimpulan:
    Khittah Nahdliyah adalah:
    • Garis perjuangan NU.
    • Komitmen kembali pada misi awal 1926.
    • Penegasan bahwa NU bukan partai politik.
    • Strategi menjaga NU tetap menjadi kekuatan moral dan sosial umat.
    Khittah bukan berarti anti politik, tetapi tidak menjadikan organisasi sebagai alat politik praktis.

    Semoga bermanfaat!
    Terima kasih. 

    Post a Comment

    "Terima kasih Anda telah mengunjungi blog kami. Kami berharap Anda dapat memberikan saran, kritik, ataupun dukungan yang positif dan membagun agar kami dapat melakukan perbaikan pada artikel blog kami."

    Lebih baru Lebih lama