Aswaja NU Kelas 12 Semester 2: Pengertian, Sejarah, dan Prinisip Islam Nusantara


    Pengertian, Sejarah, dan Prinisip Islam Nusantara 



    Hi, sahabat!
    Pada kesempatan kali ini, kami akan membagikan Materi Aswaja NU Kelas XII Semester 2 tentang Pengertian, Sejarah, dan Prinisip Islam Nusantara. Yuk, simak selengkapnya berikut ini!

    Pengertian, Sejarah, dan Prinisip Islam Nusantara 


    A. PENGERTIAN ISLAM NUSANTARA

    Islam Nusantara adalah cara memahami dan mengamalkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama‘ah di wilayah Nusantara dengan tetap berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah, sekaligus mengakomodasi budaya dan kearifan lokal yang tidak bertentangan dengan syariat.

    Islam Nusantara menampilkan Islam yang moderat, toleran, damai, dan berorientasi pada kemaslahatan, hasil dari dakwah para ulama yang mengedepankan pendekatan budaya dan akhlak, sehingga Islam hadir sebagai rahmatan lil ‘alamin dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

    B. SEJARAH ISLAM NUSANTARA

    1. Masuknya Islam ke Nusantara (Abad ke-7–13 M)

    Islam mulai masuk ke wilayah Nusantara sejak abad ke-7 M, seiring berkembangnya jalur perdagangan internasional antara Arab, Persia, India, dan Cina. Para pedagang Muslim tidak hanya berdagang, tetapi juga menyebarkan ajaran Islam melalui keteladanan akhlak, kejujuran, dan interaksi sosial yang baik.
    Bukti awal keberadaan Islam tampak pada perkampungan Muslim di pesisir Sumatra dan Jawa, serta catatan perjalanan asing.

    2. Peran Ulama dan Jalur Damai Dakwah

    Berbeda dengan wilayah lain, Islam di Nusantara tidak disebarkan melalui penaklukan militer, melainkan lewat dakwah damai. Ulama dan mubalig menyampaikan Islam melalui:
    • Perdagangan
    • Pendidikan
    • Perkawinan
    • Seni dan budaya

    Pendekatan ini membuat Islam mudah diterima oleh masyarakat lokal yang sebelumnya menganut Hindu-Buddha dan kepercayaan animisme.

    3. Akulturasi Islam dan Budaya Lokal

    Dalam proses penyebarannya, Islam tidak menghapus budaya lokal secara frontal, tetapi mengislamisasi nilai-nilainya. Tradisi yang tidak bertentangan dengan syariat dipertahankan, sementara yang bertentangan diarahkan atau ditinggalkan.
    Akulturasi ini melahirkan praktik keagamaan khas, seperti:
    • Tradisi selametan
    • Penggunaan seni (wayang, gamelan, tembang) sebagai media dakwah
    • Ritual sosial bernuansa Islam

    Tahap ini menjadi fondasi utama lahirnya Islam Nusantara.

    4. Peran Walisongo (Abad ke-15–16 M)

    Puncak pembentukan Islam Nusantara terjadi pada masa Walisongo, sembilan ulama besar di Jawa yang berhasil:
    • Menyebarkan Islam secara sistematis
    • Menggabungkan dakwah dengan budaya lokal
    • Mendirikan pusat-pusat pendidikan Islam

    Walisongo menanamkan Islam dengan prinsip hikmah, mau‘izhah hasanah, dan dialog, sehingga Islam berkembang tanpa konflik sosial.

    5. Perkembangan Kerajaan Islam

    Setelah masyarakat menerima Islam, muncul kerajaan-kerajaan Islam seperti Samudra Pasai, Demak, Banten, Mataram Islam, dan Gowa-Tallo. Kerajaan-kerajaan ini:
    • Menjadikan Islam sebagai dasar moral pemerintahan
    • Mendukung dakwah dan pendidikan Islam
    • Memperkuat identitas Islam lokal

    Namun, corak Islamnya tetap inklusif dan adaptif terhadap budaya setempat.

    6. Lahirnya Pesantren dan Tradisi Keilmuan

    Islam Nusantara semakin menguat melalui pesantren sebagai pusat pendidikan dan dakwah. Pesantren mengajarkan: Akidah Ahlussunnah wal Jama‘ah, Fikih mazhab (terutama Syafi‘i), dan Tasawuf yang moderat. 

    Tradisi ini melahirkan ulama yang ilmiah, toleran, dan berakar pada masyarakat, menjadi ciri khas Islam Nusantara.

    7. Peran Organisasi Islam Modern

    Pada abad ke-20, corak Islam Nusantara diteruskan dan diperkuat oleh organisasi Islam, khususnya Nahdlatul Ulama (NU). NU menjaga warisan Islam Nusantara dengan menegaskan: Moderasi beragama, Toleransi, dan Kesetiaan pada budaya lokal dan negara

    Istilah “Islam Nusantara” kemudian dipopulerkan untuk menegaskan identitas Islam Indonesia yang rahmatan lil ‘alamin.

    8. Islam Nusantara di Era Kontemporer

    Di era modern, Islam Nusantara tampil sebagai model Islam damai dan kontekstual, yang mampu hidup berdampingan dengan: Keberagaman budaya, Pluralitas agama, dan Negara bangsa (NKRI). Islam Nusantara menjadi jawaban atas tantangan ekstremisme dan menunjukkan bahwa Islam dapat selaras dengan budaya, demokrasi, dan kemanusiaan.

    Islam Nusantara terbentuk melalui proses panjang dan bertahap, dimulai dari kedatangan Islam secara damai, akulturasi budaya, peran ulama dan Walisongo, penguatan melalui pesantren dan kerajaan Islam, hingga dikokohkan oleh organisasi keagamaan. Proses historis ini melahirkan Islam yang moderat, toleran, berbudaya, dan berorientasi pada kemaslahatan, khas Nusantara.

    C. PRINSIP-PRINSIP ISLAM NUSANTARA

    Islam Nusantara bukan ajaran baru, melainkan cara mengamalkan Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah dengan pendekatan kontekstual, moderat, dan berorientasi kemaslahatan. Prinsip-prinsipnya sebagai berikut:

    1. Prinsip Moderasi (Tawassuṭ)

    Islam Nusantara menolak sikap berlebihan (ekstrem) dan meremehkan agama. Prinsip ini melahirkan Islam yang adil, seimbang, dan tidak radikal.
    Dalil Al-Qur’an: “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu umat yang wasath (moderat).” (QS. Al-Baqarah: 143)
    Hadis: “Sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan.” (HR. Al-Baihaqi)

    2. Prinsip Keseimbangan (Tawāzun)

    Menjaga keseimbangan antara teks dan konteks, agama dan budaya, dunia dan akhirat. Islam Nusantara tidak menolak budaya selama tidak bertentangan dengan syariat.
    Dalil Al-Qur’an: “Carilah kebahagiaan akhirat, tetapi jangan lupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)

    3. Prinsip Toleransi (Tasamuh)

    Menghormati perbedaan agama, budaya, dan pandangan tanpa mencampuradukkan akidah. Prinsip ini melahirkan kehidupan damai dan harmonis dalam masyarakat majemuk.
    Dalil Al-Qur’an:
    “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6)
    Hadis: “Barang siapa menyakiti non-Muslim yang terikat perjanjian, maka aku menjadi lawannya di hari kiamat.” (HR. Abu Dawud)

    4. Prinsip Kemaslahatan (Maṣlaḥah)

    Segala praktik keagamaan diarahkan untuk mendatangkan kebaikan dan mencegah kerusakan. Islam Nusantara menolak kekerasan atas nama agama.
    Dalil Al-Qur’an:
    “Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)
    Kaidah Fikih: Menolak kerusakan didahulukan daripada menarik kemaslahatan.

    5. Prinsip Kearifan Lokal (Al-‘Urf)

    Tradisi lokal diterima sebagai bagian dari praktik sosial keagamaan selama tidak bertentangan dengan syariat. Inilah dasar akulturasi Islam dan budaya Nusantara.
    Dalil Al-Qur’an: “Ambillah sikap pemaaf dan perintahkan yang ma‘ruf.” (QS. Al-A‘raf: 199)
    Kaidah Fikih:
    Al-‘adah muhakkamah (adat dapat dijadikan pertimbangan hukum).

    6. Prinsip Dakwah dengan Hikmah dan Akhlak

    Islam disampaikan dengan kebijaksanaan, dialog, dan keteladanan, bukan paksaan. Prinsip ini meneladani metode dakwah Walisongo.
    Dalil Al-Qur’an: “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)
    Hadis: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (HR. Ahmad)

    7. Prinsip Cinta Tanah Air dan Persatuan

    Menjaga persatuan bangsa sebagai bagian dari menjaga kemaslahatan umat. Islam Nusantara sejalan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara (NKRI).
    Dalil Al-Qur’an: “Berpeganglah kamu semuanya pada tali Allah dan jangan bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103)
    Hadis (makna): Cinta tanah air bagian dari iman (makna hadisiyah, diamalkan ulama).

    Prinsip-prinsip Islam Nusantara bersumber kuat dari Al-Qur’an dan Hadis, dengan ciri utama moderasi, toleransi, keseimbangan, kemaslahatan, dan kearifan lokal. Prinsip-prinsip inilah yang menjadikan Islam di Nusantara damai, berbudaya, dan rahmatan lil ‘alamin.

    Semoga bermanfaat!
    Terima kasih. 

    Post a Comment

    "Terima kasih Anda telah mengunjungi blog kami. Kami berharap Anda dapat memberikan saran, kritik, ataupun dukungan yang positif dan membagun agar kami dapat melakukan perbaikan pada artikel blog kami."

    Lebih baru Lebih lama