Aswaja NU SMA/MA/SMK Kelas 10 Semester 2: Tariqah Mu'tabarah

    Aswaja NU SMA/MA/SMK Kelas 10 Semester 2 tentang Tariqah Mu'tabarah



    Hi, sahabat!
    Pada kesempatan kali ini kami akan membagikan materi Aswaja NU SMA/MA/SMK Kelas 11 Semester 2 tentang Tariqah Mu'tabarah. Yuk simak selengkapnya berikut ini!

    Aswaja NU SMA/MA/SMK Kelas 10 Semester 2 tentang Tariqah Mu'tabarah


    A. PENGERTIAN THARIQAH MU’TABARAH

    1. Secara bahasa (etimologis)
    Tharīqah (الطريقة) berarti jalan, metode, atau cara yang ditempuh, sedangkan mu‘tabarah (المعتبرة) berarti yang diakui, diakreditasi, atau dianggap sah.
    Thariqah Mu’tabarah secara bahasa berarti jalan/metode yang diakui keabsahannya.

    2. Secara istilah (terminologis)
    Thariqah Mu’tabarah adalah aliran tasawuf yang memiliki sanad (silsilah) keilmuan dan spiritual yang bersambung secara sah hingga Rasulullah ﷺ, serta ajaran dan praktiknya tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan syariat Islam.

    Dengan kata lain, thariqah ini diakui oleh para ulama Ahlussunnah wal Jama‘ah karena memiliki dasar syar‘i, guru mursyid yang jelas, dan metode pembinaan spiritual yang terkontrol.


    B. HUKUM MENGIKUTI THARIQAH 

    1. Hukum Thariqah Mu’tabarah
    Hukum mengikuti Thariqah Mu’tabarah adalah mubah (boleh), bahkan dapat menjadi sunnah atau wajib secara maknawi bagi orang yang membutuhkannya untuk menjaga keistiqamahan ibadah dan penyucian jiwa, selama thariqah tersebut:
    • Memiliki sanad yang bersambung sampai Rasulullah ﷺ
    • Tidak menyelisihi syariat Islam
    • Bertujuan untuk tazkiyatun nafs (pensucian jiwa) dan mendekatkan diri kepada Allah

    Para ulama Ahlussunnah wal Jama‘ah menegaskan bahwa thariqah bukan kewajiban mutlak bagi setiap Muslim, namun merupakan sarana (wasilah) untuk mengamalkan ajaran Islam secara lebih mendalam, khususnya dalam aspek tasawuf dan akhlak.

    2. Dalil dari Al-Qur’an
    a. Perintah mengikuti jalan yang lurus
    وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ
    “Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia.” (QS. Al-An‘am: 153)
    Ayat ini menjadi dasar bahwa Islam mengenal “jalan” (thariqah) dalam mendekatkan diri kepada Allah, selama tetap berada pada ṣirāṭ al-mustaqīm.

    b. Perintah penyucian jiwa
    قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
    “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.” (QS. Asy-Syams: 9)
    Thariqah Mu’tabarah berfungsi sebagai metode pembinaan ruhani untuk melaksanakan perintah tazkiyatun nafs ini secara terarah.

    c. Perintah berdzikir secara intens
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
    “Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak.” (QS. Al-Ahzab: 41). Praktik dzikir yang teratur dalam thariqah memiliki landasan kuat dari ayat ini.

    3. Dalil dari Hadis
    a. Hadis tentang ihsan
    “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya…” (HR. Muslim). Tasawuf dan thariqah merupakan implementasi praktis maqam ihsan, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Jibril.

    b. Hadis tentang majelis dzikir
    “Tidaklah suatu kaum duduk berdzikir kepada Allah, melainkan mereka dikelilingi malaikat…” (HR. Muslim). Menjadi dasar bolehnya dzikir berjamaah yang merupakan ciri umum Thariqah Mu’tabarah.

    c. Hadis tentang sanad dan bimbingan
    “Para ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
    Hadis ini menjadi dasar pentingnya bimbingan mursyid dan sanad keilmuan dalam thariqah.

    Thariqah Mu’tabarah hukumnya boleh dan dianjurkan sebagai sarana penyempurna ibadah dan akhlak, selama tetap berpegang teguh pada syariat Islam. Ia bukan ajaran baru, melainkan metode pengamalan Islam yang berakar kuat pada Al-Qur’an, Hadis, dan praktik ulama salaf.


    C. MACAM-MACAM THARIQAH MU’TABARAH

    Nahdlatul Ulama (NU) mengakui thariqah-thariqah yang:
    1. Berakidah Ahlussunnah wal Jama‘ah
    2. Mengikuti syariat Islam (Al-Qur’an dan Sunnah)
    3. Memiliki sanad/silsilah yang bersambungsampai Rasulullah ﷺ
    4. Dibimbing oleh mursyid yang sah

    Macam-Macam Thariqah Mu’tabarah yang Diakui NU di antaranya yaitu. 

    1. Thariqah Qadiriyah
    Pendiri: Syaikh Abdul Qadir al-Jailani
    Ciri utama: dzikir jahr (keras)dan penekanan pada akhlak
    Berkembang luas di dunia Islam dan Indonesia

    2. Thariqah Naqsyabandiyah
    Pendiri: Syaikh Baha’uddin Naqsyaband
    Ciri utama: dzikir khafi (pelan/di dalam hati)dan disiplin spiritual tinggi
    Banyak berkembang di Nusantara

    3. Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)
    Gabungan Qadiriyah dan Naqsyabandiyah
    Dikembangkan oleh Syaikh Ahmad Khatib Sambas
    Salah satu thariqah paling besar di Indonesia (diakui penuh NU)

    4. Thariqah Syadziliyah
    Pendiri: Abul Hasan Asy-Syadzili
    Menekankan keseimbangan antara dzikir dan aktivitas sosial
    Cocok bagi masyarakat awam dan profesional

    5. Thariqah Rifa’iyah
    Pendiri: Syaikh Ahmad ar-Rifa’i
    Ciri khas: kesungguhan ibadah dan tawadhu’
    Berkembang di Timur Tengah dan sebagian Nusantara

    6. Thariqah Khalwatiyah
    Pendiri: Syaikh Umar al-Khalwati
    Penekanan pada khalwat (penyepian spiritual)dan muhasabah
    Berkembang di Sulawesi Selatan

    7. Thariqah Sammaniyah
    Pendiri: Syaikh Muhammad bin Abdul Karim As-Samman
    Dzikir jahr dengan semangat tinggi
    Banyak berkembang di Kalimantan dan Sumatra

    8. Thariqah Tijaniyah
    Pendiri: Syaikh Ahmad at-Tijani
    Memiliki wirid khusus yang terikat aturan
    Diakui NU selama praktiknya sesuai syariat

    9. Thariqah Alawiyah (Ba‘alawi)
    Berkembang di kalangan habaib
    Menekankan akhlak, dakwah, dan keteladanan Rasulullah ﷺ
    Sangat berpengaruh dalam tradisi keislaman NU

    Kesimpulan: 
    NU tidak membatasi jumlah thariqah, tetapi menyeleksi keabsahannya.
    Semua thariqah di atas termasuk Thariqah Mu’tabarah, karena:
    Bersanad jelas,
    Sejalan dengan syariat, dan
    Diakui oleh ulama Ahlussunnah wal Jama‘ah


    D. PERAN MURSYID DALAM THARIQAH 

    Mursyid adalah guru pembimbing ruhani dalam thariqah yang telah mencapai kematangan spiritual, memiliki sanad keilmuan dan thariqah yang sah, serta diberi izin (ijazah) untuk membimbing murid (salik).

    1. Pembimbing Jalan Spiritual (Murabbi Ruhani)
    Mursyid berperan membimbing murid dalam:
    Tahapan suluk
    Tata cara dzikir dan wirid
    Pengendalian nafsu dan pembinaan akhlak
    Agar murid tidak menyimpang dari syariat dan maqam yang ditempuh sesuai kemampuan.

    2. Penyambung Sanad kepada Rasulullah ﷺ
    Mursyid menjadi mata rantai sanad thariqah yang bersambung hingga Rasulullah ﷺ, sehingga amalan yang diamalkan murid memiliki keabsahan dan legitimasi keilmuan-spiritual.

    3. Penjaga Kemurnian Syariat
    Mursyid memastikan seluruh praktik thariqah:
    Tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah
    Sejalan dengan fikih Ahlussunnah wal Jama‘ah
    Dengan prinsip: “Tidak ada hakikat tanpa syariat.”

    4. Pendidik Akhlak dan Tazkiyatun Nafs
    Peran utama mursyid adalah membentuk:
    Keikhlasan
    Tawadhu’
    Kesabaran
    Istiqamah
    Bukan sekadar mengejar karamah, tetapi kesalehan akhlak.

    5. Pemberi Ijazah dan Talqin Dzikir
    Mursyid:
    Memberikan talqin dzikir sesuai thariqah
    Menentukan wirid sesuai kondisi murid
    Mengijazahkan amalan agar diamalan secara benar dan aman

    6. Teladan Hidup (Uswah Hasanah)
    Mursyid menjadi contoh nyata pengamalan Islam:
    Dalam ibadah
    Muamalah
    Kehidupan sosial
    Keteladanan ini menjadi pendidikan paling efektif bagi murid.

    7. Pembina Jamaah dan Persatuan
    Dalam konteks NU, mursyid juga berperan:
    Menjaga ukhuwah
    Menghindarkan fanatisme sempit
    Menguatkan dakwah yang ramah dan moderat

    Batasan Ketaatan kepada Mursyid
    Ketaatan murid kepada mursyid bersifat terbatas, yaitu:
    • Selama tidak melanggar syariat
    • Tidak meniadakan akal dan tanggung jawab pribadi
    • Ulama menegaskan: “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.”

    Kesimpulan
    Mursyid adalah penunjuk jalan, bukan tujuan.
    Perannya sangat penting agar thariqah: tetap lurus secara syariat, aman secara spiritual, dan berbuah akhlak mulia.

    E. ZIKIR THARIQAH 

    1. Pengertian Zikir Thariqah
    Zikir thariqah adalah amalan mengingat Allah yang dilakukan secara teratur, berkesinambungan, dan dibimbing oleh mursyid, dengan lafaz, tata cara, jumlah, dan waktu tertentu sesuai dengan thariqah mu‘tabarah yang diikuti, serta tidak bertentangan dengan syariat Islam.
    Zikir ini bukan sekadar bacaan lisan, tetapi latihan ruhani untuk membersihkan hati (tazkiyatun nafs) dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    2. Tujuan Zikir Thariqah
    Zikir thariqah bertujuan untuk:
    •  Menumbuhkan kesadaran akan kehadiran Allah
    •  Membersihkan hati dari sifat tercela
    •  Melatih istiqamah dan kedisiplinan ibadah
    •  Mencapai maqam ihsan (beribadah seakan-akan melihat Allah)

    3. Macam-Macam Zikir dalam Thariqah
    a. Zikir Jahr (Zahir / Keras)
    Dilafalkan dengan suara jelas
    Contoh: lā ilāha illā Allāh
    Umum pada Thariqah Qadiriyah, Sammaniyah
    Bertujuan menguatkan kesadaran dan semangat ruhani

    b. Zikir Khafi (Sirr / Dalam Hati)
    Dilakukan secara pelan atau di dalam hati
    Umum pada Thariqah Naqsyabandiyah
    Bertujuan menghadirkan Allah dalam kesunyian batin

    c. Zikir Lisan, Qalbi, dan Sirri
    Lisan: diucapkan dengan lidah
    Qalbi: dihadirkan dalam hati
    Sirri: zikir batin terdalam
    Zikir thariqah biasanya berjenjang dari lisan menuju qalbi.

    4. Bentuk Lafaz Zikir Thariqah
    Lafaz zikir yang umum dalam thariqah mu‘tabarah antara lain:
    •  Lā ilāha illā Allāh
    •  Allāh… Allāh
    •  Astaghfirullāh
    •  Shalawat kepada Nabi ﷺ
    •  Semua lafaz ini berasal dari dalil Al-Qur’an dan Hadis.

    5. Tata Cara dan Adab Zikir Thariqah
    Zikir thariqah dilakukan dengan adab:
    •  Suci dari hadas (jika memungkinkan)
    •  Menghadap kiblat
    •  Khusyuk dan penuh adab
    •  Atas ijazah dan bimbingan mursyid
    •  Tidak untuk pamer atau mencari karamah

    6. Perbedaan Zikir Umum dan Zikir Thariqah
    Zikir Umum
    • Bebas dilakukan siapa saja
    • Tidak terikat jumlah/waktu
    • Bersifat umum
                  
    Zikir Thariqah
    • Terikat bimbingan mursyid
    • Terikat jumlah dan metode
    • Bersifat pembinaan ruhani

    7. Kedudukan Zikir Thariqah dalam Islam
    Zikir thariqah:
    •  Boleh dan dianjurkan
    •  Menjadi wasilah, bukan tujuan
    •  Nilainya terletak pada keikhlasan dan istiqamah, bukan pada bentuk lahiriah

    Kesimpulan:
    Zikir thariqah adalah metode zikir yang terstruktur dan bersanad, bertujuan menyucikan hati dan memperdalam kualitas ibadah.
    Selama sesuai syariat dan dibimbing mursyid yang sah, zikir thariqah termasuk amalan yang terpuji dalam Islam.

    Semoga bermanfaat!
    Terima kasih. 

    Post a Comment

    "Terima kasih Anda telah mengunjungi blog kami. Kami berharap Anda dapat memberikan saran, kritik, ataupun dukungan yang positif dan membagun agar kami dapat melakukan perbaikan pada artikel blog kami."

    Lebih baru Lebih lama