Aswaja NU SMA/MA/SMK Kelas 10 Semester 2: Manaqib


    Aswaja NU SMA/MA/SMK Kelas 10 Semester 2: Manaqib 



    Hi, sahabat!
    Pada kesempatan kali ini, kami akan membagikan materi Aswaja NU SMA/MA/SMK Kelas 10 Semester 2 tentang Manaqib. Yuk simak selengkapnya berikut ini!

    Aswaja NU SMA/MA/SMK Kelas 10 Semester 2 tentang Manaqib 


    A. Pengertian Manaqib

    1. Secara Bahasa (Etimologis)
    Kata manaqib (مناقب) adalah bentuk jamak dari manqabah (منقبة). Secara bahasa, manqabah berarti: keutamaan, kemuliaan, kelebihan, sifat terpuji, dan prestasi atau jasa besar seseorang. Sementara itu, akar katanya dari naqaba–yanqubu yang bermakna “meneliti”, “menggali”, atau “menembus”. Maknanya berkembang menjadi sesuatu yang “menonjol” dan “layak disebut”, yaitu keutamaan seseorang.
    Jadi secara bahasa, manaqib adalah kisah-kisah tentang keutamaan dan kemuliaan seseorang.

    2. Secara Istilah (Terminologis)
    Secara istilah dalam tradisi Islam, manaqib adalah “kisah-kisah yang memuat biografi, keutamaan, akhlak, perjuangan, karamah, dan jasa para nabi, sahabat, ulama, atau wali Allah yang ditulis atau dibacakan untuk diambil pelajaran dan keteladanan.”
    Biasanya istilah manaqib paling populer digunakan untuk:
    • Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani
    • Manaqib para wali dan tokoh sufi
    • Manaqib sahabat Nabi
    Jadi secara terminologis, manaqib adalah literatur atau tradisi pembacaan kisah keutamaan orang-orang saleh untuk tujuan ibrah (pelajaran) dan tabarruk (mengharap keberkahan).

    B. Hukum Membaca Manaqib (Beserta Dalil)

    1. Hukum Dasar
    Secara umum, membaca manaqib hukumnya mubah (boleh) dan bahkan bisa menjadi Sunnah, jika diniatkan untuk mengambil pelajaran dan menumbuhkan kecintaan kepada orang saleh. Selain itu, membaca manaqib bernilai ibadah jika diisi dengan dzikir, doa, dan majelis ilmu selama:
    • Isinya tidak bertentangan dengan aqidah
    • Tidak mengandung kesyirikan
    • Tidak meyakini wali memiliki kekuasaan mutlak selain Allah

    2. Dalil dari Al-Qur’an
    a. Kisah orang saleh untuk pelajaran
    Allah berfirman:
    “Sungguh pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Yusuf: 111)
    Ayat ini menunjukkan bahwa menceritakan kisah orang saleh adalah metode pendidikan Qur’ani.

    b. Perintah mengikuti orang-orang yang diberi nikmat
    “Mereka itulah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah...” (QS. An-Nisa: 69)
    Mengikuti mereka tentu perlu mengetahui keutamaan dan perjalanan hidup mereka — inilah fungsi manaqib.

    3. Dalil dari Hadis
    a. Menyebut orang saleh mendatangkan rahmat
    Dalam sebuah atsar disebutkan:
    عند ذكر الصالحين تنزل الرحمة
    “Ketika disebut orang-orang saleh, maka rahmat Allah turun.”
    Walau status hadis ini diperselisihkan, maknanya didukung oleh banyak riwayat tentang keberkahan majelis dzikir.

    b. Mencintai orang saleh
    Rasulullah ï·º bersabda: “Seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Membaca manaqib termasuk cara menumbuhkan mahabbah kepada orang saleh.

    C. Macam-Macam Kitab Manaqib

    Berikut beberapa kitab manaqib yang terkenal beserta isinya:

    1. Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani
    Contoh:
    Bahjatul Asrar karya Asy-Syaṭṭanūfī
    Al-Lujain ad-Dani fi Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani karya Syekh Ja'far al-Barzanji
    Isi kandungan: nasab beliau, riwayat pendidikan, perjuangan dakwah, karamah-karamah, serta wasiat dan nasihat beliau. 

    2. Manaqib Imam Syafi’i
    Contoh:
    Manaqib al-Imam asy-Syafi’i karya Imam al-Baihaqi
    Isi: biografi Imam Syafi’i, keilmuan dan kecerdasan beliau, pujian ulama terhadap beliau, serta ketakwaan dan kezuhudan. 

    3. Manaqib Sahabat
    Contoh:
    Fadhail as-Sahabah karya Imam Ahmad bin Hanbal
    Isi: Keutamaan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Perjuangan mereka dalam Islam, serta Kedekatan mereka dengan Rasulullah ï·º. 

    4. Manaqib Walisongo (Tradisi Nusantara)
    Isi: Sejarah dakwah di Nusantara, Metode dakwah kultural, serta Karomah dan strategi social. 

    D. Tradisi Pembacaan Manaqib

    Di Indonesia, terutama dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU), pembacaan manaqib menjadi tradisi yang hidup. Pembacaan manaqib ini biasanya dilakukan pada:
    • Setiap malam Jumat
    • Tanggal 11 Hijriyah (khusus Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani)
    • Acara haul
    • Pengajian rutin
    • Nadzar atau hajat tertentu. 

    Adapun rangkaian acara pembacaan manaqib biasanya meliputi:
    1. Tawassul
    2. Pembacaan surat Yasin
    3. Pembacaan manaqib
    4. Dzikir dan doa
    5. Mauidhah hasanah

    Sementara itu, tradisi pembacaan manaqib ini menjadi sarana untuk penguatan spiritual, silaturahmi social, dan pendidikan akhlak. 

    E. Tujuan Membaca Manaqib

    Beberapa tujuan utama pembacaan manaqib diantaranya yaitu:

    1. Mengambil Ibrah (Pelajaran)
    Umat Islam mampu meneladani akhlak, kesabaran, dan perjuangan orang saleh.

    2. Menumbuhkan Mahabbah
    Umat Islam mampu mencintai wali dan ulama sebagai pewaris nabi.

    3. Tabarruk (Mengharap Keberkahan)
    Umat Islam mampu memperoleh keberkahan dengan berkumpul dalam majelis dzikir dan menyebut nama orang saleh.

    4. Menguatkan Spiritualitas
    Umat Islam mampu meningkatkan iman, tawakal, dan rasa dekat kepada Allah.

    5. Mempererat Ukhuwah
    Umat Islam mampu menjalin persaudaraan yang erat karena dilakukan secara berjamaah.

    F. Ijazah Membaca Manaqib

    1. Pengertian Ijazah
    Ijazah dalam tradisi tasawuf adalah “Izin dari guru kepada murid untuk mengamalkan atau membaca suatu wirid, doa, atau kitab tertentu.”

    2. Mengapa Ada Ijazah?
    Karena dalam tradisi tarekat, 
    Amalan memiliki sanad (rantai transmisi), 
    Ada adab dan tata cara khusus, dan 
    Untuk menjaga keaslian dan keberkahan. 

    3. Apakah Wajib Ijazah?
    Secara umum:
    Membaca manaqib sebagai bacaan sejarah → tidak wajib ijazah
    Membaca sebagai amalan khusus tarekat dengan tata cara tertentu → biasanya dianjurkan memiliki ijazah dari mursyid
    Ijazah lebih kepada aspek adab dan sanad, bukan syarat sah secara syariat.

    Manaqib adalah tradisi keilmuan dan spiritual yang berakar pada metode Qur’ani dalam menyampaikan kisah-kisah teladan. Hukumnya boleh bahkan bisa bernilai ibadah selama tidak menyimpang dari aqidah. Kitab-kitab manaqib memuat biografi, keutamaan, perjuangan, dan karamah orang saleh. Tradisi pembacaannya hidup dalam masyarakat Muslim, khususnya di Nusantara, sebagai sarana pendidikan akhlak dan penguatan spiritual.

    Semoga bermanfaat!
    Terima kasih. 

    Post a Comment

    "Terima kasih Anda telah mengunjungi blog kami. Kami berharap Anda dapat memberikan saran, kritik, ataupun dukungan yang positif dan membagun agar kami dapat melakukan perbaikan pada artikel blog kami."

    Lebih baru Lebih lama