Hi, sahabat!
Pada kesempatan kali ini, kami akan membagikan materi Aswaja NU SMA/MA/SMK Kelas 10 Semester 2 tentang Meneladani KH. Abdullah Abbas. Yuk simak selengkapnya berikut ini!
Aswaja NU SMA/MA/SMK Kelas 10 Semester 2 tentang Meneladani KH. Abdullah Abbas
A. Biografi KH. Abdullah Abbas
KH. Abdullah Abbas lahir pada 1922 di lingkungan Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat. Beliau berasal dari keluarga ulama besar yang memiliki garis keturunan panjang pesantren. Ayahnya adalah KH. Abbas bin Abdul Jamil, seorang ulama pejuang yang juga tokoh penting dalam Resolusi Jihad dan pertempuran 10 November 1945.
Lingkungan Buntet Pesantren membentuk beliau sejak kecil dalam tradisi:
- Ilmu keislaman klasik (kitab kuning)
- Nasionalisme pesantren
- Spirit perjuangan melawan penjajahan
Beliau wafat pada 24 Agustus 2018 dan dimakamkan di kompleks Buntet Pesantren, meninggalkan warisan keilmuan dan kebangsaan yang kuat.
B. Pendidikan dan Pembentukan Keilmuan
Seperti tradisi pesantren pada umumnya, KH. Abdullah Abbas menempuh pendidikan melalui sistem rihlah ilmiah (berkeliling pesantren). Beliau belajar di Buntet Pesantren (Cirebon) — sebagai basis pendidikan awal dan beberapa pesantren besar di Jawa, termasuk Tebuireng dan pesantren-pesantren NU lainnya Keilmuan beliau kuat dalam: fikih mazhab Syafi’I, tafsir, hadis, ilmu alat (nahwu, sharaf, balaghah), dan tasawuf. Beliau tumbuh sebagai ulama yang memadukan tradisi salaf dengan kesadaran sosial-politik.
C. Peran pada Masa Penjajahan
Walaupun saat masa pendudukan Jepang dan Belanda beliau masih relatif muda, KH. Abdullah Abbas tumbuh dalam atmosfer perlawanan. Ayah beliau, KH. Abbas, adalah tokoh sentral dalam: Resolusi Jihad 1945, pertempuran Surabaya 10 November 1945, dan mobilisasi santri untuk mempertahankan kemerdekaan.
Sebagai putra seorang ulama pejuang, KH. Abdullah Abbas terlibat dalam dukungan logistik dan moral perjuangan, mengalami langsung tekanan colonial, hingga menyerap nilai bahwa ulama dan pesantren wajib membela tanah air. Di pesantren, jihad dipahami bukan sekadar spiritual, tapi juga membela kedaulatan bangsa.
D. Peran pada Masa Kemerdekaan
1. Penguatan Pesantren
Setelah kemerdekaan, beliau melanjutkan kepemimpinan dan pengembangan Buntet Pesantren menjadi: Pusat pendidikan Islam tradisional yang besar di Jawa Barat, Basis kaderisasi ulama NU, serta Lembaga pendidikan formal dan nonformal. Beliau memperluas sistem pendidikan: madrasah formal, pendidikan diniyah, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan. Pesantren tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga pusat pembangunan sosial.
2. Peran dalam Nahdlatul Ulama
KH. Abdullah Abbas dikenal sebagai tokoh penting NU di Jawa Barat. Perannya antara lain:
- Pengurus dan penasihat NU tingkat daerah dan nasional
- Menjaga paham Ahlussunnah wal Jamaah
- Menguatkan komitmen NU terhadap NKRI
Beliau konsisten menjaga Khittah NU 1926, yaitu NU sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah (organisasi sosial keagamaan), bukan partai politik.
3. Kontribusi terhadap Pancasila dan NKRI
KH. Abdullah Abbas termasuk ulama yang:
- Mendukung Pancasila sebagai dasar negara
- Menegaskan bahwa Islam dan nasionalisme tidak bertentangan
- Menolak gerakan ekstremisme agama
Dalam berbagai kesempatan, beliau menekankan bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari iman (hubbul wathan minal iman — sebagai spirit perjuangan pesantren).
E. Peran pada Era Modern (Orde Baru hingga Reformasi)
Pada masa Orde Baru hingga Reformasi, KH. Abdullah Abbas memainkan peran sebagai:
1. Penjaga Moderasi Islam
KH. Abdullah Abbas menjadi rujukan dalam: Isu kebangsaan, Relasi agama dan negara, dan Penguatan Islam moderat. Buntet Pesantren menjadi simbol Islam tradisional yang toleran dan inklusif.
2. Tokoh Perekat Umat
KH. Abdullah Abbas aktif dalam: Dialog antarulama, Forum kebangsaan, serta Pendidikan kader ulama dan tokoh masyarakat. Dalam masa-masa politik yang panas, beliau dikenal sejuk, tidak provokatif, dan mengutamakan persatuan.
F. Model Dakwah KH. Abdullah Abbas
Model dakwah KH. Abdullah Abbas dilandasi pada tiga pilar utama yaitu:
1️. Dakwah Ilmiah: Berbasis pengajaran kitab klasik dan sanad keilmuan.
2️. Dakwah Kebangsaan: Islam harus memperkuat negara, bukan merusaknya.
3️. Dakwah Sosial: Pesantren harus hadir dalam persoalan umat: pendidikan, kemiskinan, moralitas.
Beliau bukan tipe orator keras, tetapi figur yang menenangkan dan memberi arah.
G. Jasa Besar bagi Indonesia
Jasa KH. Abdullah Abbas bagi Indonesia meliputi:
1. Mewarisi dan menjaga semangat jihad kemerdekaan
Melalui kaderisasi santri dan penguatan nilai nasionalisme.
2. Mengembangkan pendidikan Islam tradisional-modern
Menjadikan Buntet Pesantren tetap relevan di era modern.
3. Menjaga Islam Moderat (Aswaja)
Melawan radikalisme dan menjaga keseimbangan antara agama dan negara.
4. Mengokohkan NU sebagai pilar bangsa
Menjadi tokoh rujukan dalam isu kebangsaan.
Kesimpulan:
KH. Abdullah Abbas adalah:
- Ulama pewaris tradisi jihad pesantren
- Penjaga kesinambungan perjuangan kemerdekaan melalui pendidikan
- Tokoh NU yang konsisten menjaga Aswaja dan NKRI
- Figur moderat yang menyejukkan di tengah dinamika politik Indonesia
Beliau menunjukkan bahwa perjuangan tidak selalu dengan senjata - kadang perjuangan terbesar adalah mendidik generasi, menjaga akidah, dan merawat Indonesia.
Semoga bermanfaat!
Terima kasih.
Posting Komentar
"Terima kasih Anda telah mengunjungi blog kami. Kami berharap Anda dapat memberikan saran, kritik, ataupun dukungan yang positif dan membagun agar kami dapat melakukan perbaikan pada artikel blog kami."