Aswaja NU SMA/MA/SMK Kelas 10 Semester 2: Tirakat atau Riyadah

    Hi, sahabat!
    Pada kesempatan kali ini, kami akan membagikan materi Aswaja NU SMA/MA/SMK Kelas 10 Semester 2 tentang Tirakat atau Riyadah. Yuk simak selengkapnya berikut ini!

    Aswaja NU SMA/MA/SMK Kelas 10 Semester 2 tentang Tirakat atau Riyadah


     A. Pengertian Tirakat (Riyāḍah)

    Tirakat dalam tradisi Nusantara berasal dari istilah Arab yang maknanya kurang lebih sama dengan zuhud atau mujāhadah, yakni menahan diri dari kesenangan dunia demi tujuan spiritual. Sedangkan riyāḍah (رياضة) secara bahasa berarti latihan, pelatihan, atau pembiasaan.

    Kata ini berasal dari akar kata rāḍa–yarūḍu yang berarti “melatih” atau “menjinakkan”. Dalam konteks bahasa Arab klasik, riyāḍah dipakai untuk melatih kuda agar jinak dan patuh. Dalam tasawuf, maknanya menjadi “melatih jiwa agar tunduk kepada Allah dan tidak liar mengikuti hawa nafsu.”

    Dalam istilah tasawuf, tirakat atau riyāḍah adalah usaha sungguh-sungguh (mujāhadah) untuk melatih dan membersihkan jiwa melalui ibadah, pengendalian hawa nafsu, dan pembiasaan amal saleh demi mendekatkan diri kepada Allah SWT. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa riyāḍah adalah proses:
    • Membersihkan hati dari sifat tercela (takhalli)
    • Menghiasinya dengan sifat terpuji (tahalli)
    • Hingga mencapai ma’rifatullah (tajalli)
    Jadi tirakat bukan sekadar menahan lapar atau begadang, tapi proses pendidikan ruhani.

     B. Hukum Menjalankan Tirakat (Riyāḍah)

    Secara umum, tirakat hukumnya sunnah (dianjurkan) selama: tidak bertentangan dengan syariat, tidak menyiksa diri secara berlebihan, dan tidak meninggalkan kewajiban. Karena inti tirakat adalah memperbanyak ibadah dan mengendalikan nafsu, maka hukumnya mengikuti hukum ibadah yang dilakukan.

    Landasan tirakat atau riyadah berdasarkan Al-Qur’an yaitu:
    1️. QS. Al-Ankabut: 69
    “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (mujāhadah) di jalan Kami, niscaya Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
    Ayat ini menjadi dasar konsep riyāḍah: kesungguhan melatih diri akan membuka jalan hidayah.

    2️. QS. Asy-Syams: 9–10
     “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”
    Tirakat adalah bagian dari proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs).

    3️. QS. Al-Baqarah: 183
     “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa…”
    Puasa adalah bentuk riyāḍah paling jelas: latihan menahan hawa nafsu.

    Landasan tirakat atau riyadah yang bersumber dari Hadis yaitu:

    1️. Rasulullah ﷺ bersabda:
     “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Ini inti riyāḍah: pengendalian diri.

    2️. Hadis Qudsi:
     “Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)
    Amalan sunnah yang dilakukan terus-menerus adalah bentuk tirakat.

    Catatan:
    Tirakat bisa menjadi MAKRUH bahkan HARAM, apabila:
    Menyakiti tubuh secara ekstrem,
     Mengharamkan yang halal,
     Meninggalkan kewajiban, dan
     Mengada-ada ritual tanpa dasar syariat. 

    Rasulullah ﷺ bersabda:
     “Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu.” (HR. Bukhari)
    Jadi Islam tidak mengajarkan asketisme ekstrem seperti menyiksa diri.

     C. Bentuk-Bentuk Tirakat / Riyāḍah

    Berikut beberapa bentuk tirakat atau riyadah yang dapat dilakukan oleh umat Islam:

    1. Puasa Sunnah
    Puasa sunnah yang dapat dijadikan sebagai bentuk tirakat atau riyadah antara lain: puasa Senin-Kamis, puasa Daud, puasa Ayyamul Bidh, puasa mutih (jika tidak melanggar syariat dan tidak membahayakan), dan sebagainya. Puasa adalah latihan mengendalikan nafsu makan, syahwat, dan amarah.

    2. Qiyamul Lail (Shalat Malam)
    Tujuan utama qiyamul lail yaitu untuk melatih keikhlasan, konsistensi, serta melawan rasa malas. 

    3. Mengurangi Bicara dan Makan
    Dalam tasawuf disebut:
    Qillat al-kalam (sedikit bicara)
    Qillat al-ta’am (sedikit makan)
    Qillat al-manam (sedikit tidur)
    Bukan berarti menyiksa diri, tapi melatih pengendalian.

    4. Dzikir dan Wirid
    Dzikir dan wirid yang senantiasa dibaca oleh umat Islam sebagai media tirakat atau riyadah antara lain: istighfar, shalawat, tahlil, serta ratib dan hizib. Kegiatan ini melatih hati agar selalu ingat Allah.

    5. Mujahadah Melawan Nafsu
    Mujahadah untuk melawan nafsu ini dapat dilakukan melalui beberapa kegiatan, seperti menahan marah, tidak membalas kezaliman, sabar dalam ujian, dan ikhlas dalam amal. Kegiatan tersebut merupakan bagian riyāḍah tingkat tinggi—karena melatih ego.

    6. Uzlah (Mengasingkan Diri Sementara)
    Uzlah atau mengasingkan diri sementara ini, diilakukan dengan tujuan untuk: muhasabah, menghindari maksiat, fokus ibadah, tetapi bukan berarti meninggalkan tanggung jawab sosial.

     D. Hikmah dan Manfaat Tirakat / Riyāḍah

    Adapaun hikmah atau manfaat bagi umat Islam dalam menjalankan tirakat atau riyadah yaitu sebagai berikut. 

    1. Membersihkan Hati
    Melalui tirakat atau riyadah, umat Islam diharapkan memiliki hati yang: lebih lembut, tidak mudah iri, dan tidak mudah marah. 

     2. Menguatkan Kontrol Diri
    Umat Islam yang terbiasa dengan tirakat atau riyadah, akan: tidak mudah tergoda, tidak impulsive, dan lebih sabar. 

     3. Mendekatkan Diri kepada Allah
    Dengan tirakat atau riyadah, umat Islam mampu mendekatkan diri kepada Allah SWT karena hati mereka lebih fokus dan tidak sibuk dengan dunia.

     4. Menguatkan Keikhlasan
    Umat Islam yang terbiasa dengan tirakat atau riyadah, akan memiliki rasa keikhlasan yang tinggi sehingga amal ibadah yang mereka lakukan tidak lagi berorientasi pada pujian atau keuntungan duniawi. 

     5. Meningkatkan Ketenangan Jiwa
    Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Ar-Ra’d: 28, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” Umat Islam yang terbiasa tirakat atau riyadah akan memiliki ketenangan jiwa yang semakin meningkat. 

     6. Membentuk Akhlak Mulia
    Pada hakikatnya tirakat atau riyadah adalah proses pembentukan karakter sehingga umat Islam yang terbiasa melakukannya akan menjadi tawadhu’, sabar, syukur, atau ridha pada ketentuan Allah SWT. 

     7. Mendapat Cinta Allah
    Seperti dalam hadis qudsi tadi—kedekatan melalui amalan sunnah membawa cinta Ilahi. Jadi, umat Islam yang terbiasa menjalankan tirakat atau riyadah akan memperoleh cinta Allah SWT baik di dunia atau di akhirat kelak. 

    Kesimpulan:
    Tirakat (riyāḍah) adalah “proses latihan spiritual untuk menundukkan hawa nafsu, membersihkan jiwa, dan mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah dan pengendalian diri sesuai syariat.” Ia bukan sekadar ritual keras atau menahan lapar, tapi pendidikan ruhani yang terarah.
    Dan yang paling penting:
    Tirakat tanpa ilmu bisa menyimpang.
    Tirakat tanpa adab bisa sombong.
    Tirakat tanpa syariat bisa sesat.
    Tapi tirakat yang sesuai sunnah? Itu merupakan jalan menuju kejernihan hati dan kedekatan dengan Allah.

    Semoga bermanfaat!
    Terima kasih. 

    Post a Comment

    "Terima kasih Anda telah mengunjungi blog kami. Kami berharap Anda dapat memberikan saran, kritik, ataupun dukungan yang positif dan membagun agar kami dapat melakukan perbaikan pada artikel blog kami."

    Lebih baru Lebih lama